Langsung ke konten utama

Tangisan Hati

 

Gambar: Gama Nurbaya

Keindahan pada sore hari ini bagai gambaran dari hati dua insan yang sedang jatuh cinta, cinta kasih yang amat sangat indah dalam sejarah hidup mereka berdua. Hamparan pasir yang begitu luas, putih dan bersih dengan iringi sebuah hembusan angin yang sejuk dan suara gemuruh ombak yang datang ke pesisir pantai. Terdengar suara alunan ayat-ayat suci al-qur’an yang sedang dibacakan oleh seseorang yang berada di samping perempuan. Kenikmatan yang didengar selalu membawanya ingin selalu tetap bersamanya atas ridho Allah. Seseorang yang berada di sampingnya ini telah selesai membaca ayat suci al-qur’annya. Dia menghela napas dalam keadaan terus berjalan lurus dan berkata.

“Subhanallah… sungguh indah ciptaan-Nya.” Perempuan itu tersenyum dan menjawabnya, “Maha besar dengan apa yang dikehendaki-Nya.”

“Ada yang ingin ku tanyakan.” Perempuan itu mulai berbicara serius walau kami masih tetap berjalan.
“Tentang?”
“Kita.”
“Kita?” Arif penasaran, dan menggerutkan alis.
“Iya. Aku ingin kita menjadi halal.”

Arif kaget mendengarnya, “Apa secepat ini?” gumam Arif memastikan.
“Kenapa tidak?” Arif bingung dengan penjelasan apa yang harus di katakan pada Vira. Dengan keadaan saat ini, apakah mungkin dia harus memaksakan dirinya untuk dapat memiliki sang pujaan hatinya itu? “Musibah sedang menimpaku.” Jawab Arif singkat. Vira mendengarnya dengan jelas, telah diduga sebelumnya bahwa Arif belum siap.

“Musibah apa?” tanya Vira dengan nada penasaran dan suara lembutnya. “Tak perlu kamu tahu, karena itu akan menjadi beban bila kamu tahu.” Arif menjawab seadanya.
“Lalu?” Vira semakin penasaran, apa laki-laki yang di sampingnya ini benar mencintainya atau tidak? Mengapa dia berkata seperti itu. “Aku belum bisa memutuskannya.” jawab Arif singkat.
“Bagaimana bila…” Vira memutuskan ucapannya. “Bila apa?” Arif penasaran, dan mulai sedikit cemas.
“Tidak. Lupakan saja, kita bicara lagi nanti.” singkat Vira.

Setelah itu tidak ada lagi percakapan antara Arif dan Vira, mereka hanya berjalan lurus mengikuti arah jalur jalan. Menjelang akan magrib Vira sudah sampai di rumahnya dengan diantar oleh Arif. Sepanjang perjalanan tidak ada sebuah kata terucap dari salah satu dari mereka, sesampainya di rumah Vira menawarkan Arif untuk singgah sebentar tapi Arif menolaknya karena dia tahu hari hampir magrib dan dia pun memutuskan untuk pulang.


Dalam sebuah kamar yang tidak terlalu besar dan sederhana, Vira duduk di kursi dengan mengahadap ke jendela, dengan pakaian yang rapi dan sedikit make up yang natural. Pandangannya dia luruskan ke depan tanpa arah yang jelas dengan pikiran yang kosong dan lamunannya dia hanya terdiam tanpa kata. Pintu kamar Vira diketuk oleh seseorang yang berada di luar. Ia menjawabnya, “iya, masuk.” Tanpa terasa air mata Vira menetes, Vira segera menghapusnya.

“Kenapa kamu Vir?” tanya mama Vira. Ia menggelengkan kepala.
“Ya sudah tidak apa-apa, kamu ke luar sekarang ya?” mama Vira mencoba menyuruhnya untuk menemui tamu papanya.
“Ma, apa bisa untuk saat ini aku tidak ke luar dulu? Lagian kan ini cuma perkenalan aja.” Vira mencoba mengelak.
“Justru ini perkenalan Vira, mereka ingin tahu kamu, tentang kamu dan bagaimana kamu.” mama membujuk Vira.
Vira menghela napas panjang, dia paksakan ke luar kamar walau hati berat untuk menerimanya.


Tanpa kabar dan apa pun dari sang pujaan hati, Arif hanya berbaik sangka pada Vira dengan mengira bahwa perempuan yang dia cintai itu sedang sibuk kerja. Tapi saat ini perasaannya sangat tidak enak, yang ada di pikirannya hanyalah Silvira. Ke mana engkau sang pujaan hati, aku di sini sedang merindukanmu. Pikiran Arif langsung teringat suatu kejadian saat bersama Vira ketika di pantai. Arif semakin bingung, di satu sisi musibah yang ditimpanya pun belum tentu bisa dilewatinya. Ibu yang sedang sakit, biaya dari mana Arif harus membeli obat dan membawa ibunya untuk berobat.

Dalam kondisi seperti ini dia harus di-off untuk sementara dari pekerjaannya itu, sungguh Allah sangat menyayanginya hingga dia diberikan ujian seperti itu. Bagaimana mungkin dia bisa meminang Vira? Akan mempermalukan diri sendiri bila dia harus meminangnya dalam keadaan seperti ini. Arif tidak dapat membohongi perasaannya sendiri, bagaimana mungkin dia harus melepaskan Vira.. perempuan yang dia cintai setelah Allah dan rasul juga Al-qur’an. Arif mencoba menghilangkan rasa kerinduannya itu dengan mencurahkan isi hatinya dengan menghafal Al-qur’an dan mengulangnya.


Tamu yang datang ke rumah Vira baru saja pulang, nampaknya mereka sangat senang sekali dan tampak akrab.
“Vir.” papa memanggilnya ketika Vira akan masuk ke dalam kamarnya. Vira berbalik badan, papanya mengisyaratkan agar Vira duduk kembali. Dan Vira pun menurut.
“Ada apa Pa?” tanya Vira penasaran. “Pikirkan baik-baik Nak.” papanya langsung kepada pokok permasalahan.
Vira tidak bisa menjawabnya, dia pun menundukkan kepalanya. “Jawab Nak, Papa sama sekali tidak ingin memaksamu. Tapi tolong pikirkan juga masa depanmu.” jelas papa Vira.

Ibu Vira mendekati anaknya itu, dan mencoba menenangkan anaknya dengan memegang pundak Vira. Setelah beberapa menit terdiam Vira pun membuka mulutnya “Vira masuk dulu.” gumamnya yang ditujukan pada kedua orangtuanya. Dalam kamarnya Vira merebahkan dirinya ke atas tempat tidur. Vira bingung, harus bagaimana keputusan yang diambilnya. Cintanya atau masa depannya? Kedua-duanya memiliki dasar dan arti yang sangat mendalam.

Vila dia memilih cintanya maka kehidupannya masih dalam lingkup tanda tanya besar karena tujuan hidup kebersamaan yang dijalaninya akan dimulai dari nol dengan rintisan awal perjuangan hidup. Bila dia korbankan cintanya demi masa depan yang terlihat cerah itu maka cinta suci yang dia berikan kepada orang yang dicintainya itu akan cukup sampai di sini dan tidak akan ada lagi cinta kasih di antara mereka. Vira hanya menangis dalam kamarnya, dari sore kepulangan tamu dia ke luar hingga esoknya.


Dipandanginya sebuah foto perempuan yang dia cintai itu dalam ponselnya. Lama rasa rindunya tidak bisa terobati, perempuan itu telah melelehkan hati Arif hingga dia tidak bisa bila harus berpaling ataupun tidak mendengar kabar darinya. Lama berpikir, lalu Arif memutuskan untuk menelepon Vira. Dicarinya kontak nomor Vira dan mencoba menghubunginya. “Assamualaikum.” Vira menjawab dari ujung gagang ponselnya. “Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.” jawab Arif dengan senyumannya, merasa lega ketika mendengar ucapan Vira. “Gimana kabarnya Vir?” Lanjut Arif sambil membuka percakapan. “Alhamdulillah baik dan sehat, Rif sendiri?” Vira menjawab sedikit ragu dan mencoba menyembunyikan perasaannya. “Udah lama ya gak ada kabar? Ke mana aja nih?” Arif mencoba percakapan yang lebih akrab.

Dalam hati Vira berkata ingin sekali bersenda gurau lagi dengannya menghilangkan semua rasa keluh kesahnya dan mengakrabkan diri walau hanya dengan perkataan-perkataan yang konyol dan tidak penting. Bawelnya Vira jika tidak mendapat kabar dari Arif, marahnya dan rasa kangen Vira kepada Arif lebih dari Arif padanya, Dia pendam semua itu dalam-dalam. Dengan sangat berat hati, keputusan yang diambilnya harus diberitahukannya.

Vira hanya menjawab ‘Iya’, tersenyum dan begitu seterusnya. Padahal Arif sudah mengoceh cukup lama, dengan gombalannya, mengajak Vira bercanda dan curhat tentang pekerjaannya. Lama Arif berbincang-bincang bagaikan dia berkata dengan tembok, karena respon yang diberikan oleh Vira hanya bagaikan pantulan dari perkataannya saja. Arif pun terdiam cukup lama, Vira bingung dan mencoba membuka mulutnya untuk bercakap.

“Rif.. Arif.” mencoba memastikan Arif masih terhubung apa tidak.
“Aku cape bicara terus, sedangkan kamu hanya diam.. diam.. dan diam.. ada apa?” Arif tahu kalau Vira sedang ada masalah dan dia rasa ini soal yang kemarin.
“Tidak.” Vira menjawab pelan dan singkat. Arif tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Vira. Apa yang harus dikatakannya kini? Apakah memang mereka bukan jodoh? Apa yang dipikirkan Arif dulu tentang jodoh tidak akan ke mana itu ternyata salah, kini hanya ada bayang-bayang kosong tentang masa depannya yang entah harus ia bawa ke mana.

“Berkatalah jujur jika itu memang yang terbaik.” Arif berkata seolah-olah mempunyai hati yang kuat tanpa beban. Vira kaget mendengarnya, apakah Arif bisa membaca pikirannya?
“Ku beri kamu waktu satu bulan untuk meminangku.” Jelas Vira singat. Arif semakin tidak mengerti? Ada apa ini? Kenapa Vira seperti memaksa? Apakah terjadi sesuatu padanya?
Arif teringat suatu hal. “Adakah laki-laki yang datang lagi ke rumahmu?” tanya Arif penasaran. Vira tidak kuasa bila harus mengatakan semuanya, pantaskah dia menyakiti laki-laki yang sangat dia cintai dan dengan kesalehannya itu dia terpikat. Haruskah Vira melepaskan semuanya dengan percuma? Vira mulai kebingungan, pikirannya di mana-mana.

“Lakukan saja… jika tidak, mungkin kita tidak dapat bersama lagi.” Vira berkata seperti tangan yang hampa, mudah mengucap sulit diresap.
“Mengapa harus satu bulan? Berkatalah lebih jujur Silvira.” Arif semakin ingin tahu dan Vira seakan membuat hatinya panas dan jengkel, apa harus dia mengatakan semua itu dengan mudahnya. “Orangtua merestuiku dengan laki-laki mana saja yang bisa membahagiakanku dan keluarga, semua orang di sekitarku mendukungku dengan siapa pun. Tapi aku hanya diberi waktu satu bulan untuk mencari seseorang yang benar-benar bisa halal untukku.” Entah alasan apa yang harus ia berikan agar tidak terucap kata menyakitkan untuk Arif.

“Mengapa secepat itu?”
“Karena terlalu banyak laki-laki yang sering datang ke rumah ingin meminangku, keluargaku tidak sanggup bila terus saja harus menolak mereka semua yang datang, cemoohan dari warga sekitar, tetangga, dan sanak saudara. Maka dari itu orangtuaku sepakat bila di antara satu bulan ini ada orang yang melamarku mau tidak mau, suka tidak suka aku harus ikhlas.” Vira berkata sambil meneteskan air mata, walaupun itu hanya di sebuah telepon genggam tapi mereka seperti sedang bersama Vira menyenderkan kepalanya ke dinding kamarnya sedangkan Arif pun sama. Helaan napas panjang dari Arif yang terdengar jelas oleh Vira semakin membuat hati Vira lebih menangis dari aslinya.

“Apa sampai sini kita akan menyerah? lalu selama ini apa? Pengorbanan apalagi yang harus ku buktikan?” Arif mencoba bersikap tegas dan tegar.

“Bukan pengorbanan yang harus ditangisi tapi pertemuan cinta kasihlah yang harus kita sesali, seharusnya kita tak kunjung hingga kini.” Vira menahan napas.

“Mudah sekali kamu berkata? Tanpa tahu arti dari pengorbanan itu apa?”

“Tidak sulit untuk berkata demikian karena perpisahan telah di ujung mata.” Vira menutup mata, menahan tangis dan menahan napas yang tersendat di dadanya. Semua itu terasa sangat sakit bagaikan tertusuk duri yang amat sangat tajam.

Tidak kuasa bila harus mendengar semua kata-kat itu dari Vira, cukup sudah usai cerita cinta kasih mereka. Arif memegang ponselnya dengan gemetar, segera dia berkata, “Wassalamualaikum.” dan segera menutup teleponnya itu. Vira tidak dapat berkata, dia menangis dan terjatuh tertunduk saat berdiri. Bagaimana bisa dia harus melakukan ini? Salah besarkah Vira? Apa yang harus dilakukannya sekarang? Bagaimana jika orang lain ada di posisinya sekarang? Apa dia pun akan melakukan ini?

Arif seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Vira, lamanya mereka berhubungan harus diakhiri dengan kisah yang sangat tragis. Hanya dengan beralaskan menjaga nama baik keluarga agar tidak menjadi cemoohan orang sekitar, Vira rela korbankan cintanya, mimpinya dan kebahagiaan hatinya

Penulis: Dhon_Max
Editor: Reny Tiarantika


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadiri Pelantikan Pengurus MD KAHMI Kota Malang, Menko PMK RI: KAHMI Malang Harus Bisa Memberi Arti Peranannya di Malang Raya

Dokumentasi : Rafindi  Malang, LAPMI  - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhadjir Effendy menghadiri pelantikan Majelis Daerah (MD) KAHMI Kota Malang Periode 2021-2026, terhitung sebanyak 67 orang yang telah dilantik oleh Majelis Wilayah (MW) Korps Alumni HMI (KAHMI) Jawa Timur. Pelantikan tersebut berlangsung di Regents Park Hotel, pada Minggu (30/01/2022). Selain Menko PMK RI, pelantikan tersebut juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Presidium MN KAHMI Manimbang Kahariady, Presidium MW KAHMI Jawa Timur Edy Purwanto, Wali Kota Malang Sutiaji, Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian Diana Kartika beserta para tokoh dan tamu undangan lainnya. Dalam momentum pelantikan yang bertemakan "Berperan Aktif dalam Kemaslahatan Publik di Era Disrupsi" tersebut, Muhadjir Effendy berkesempatan untuk memberikan pidato kebudayaan. Saat pidato berlangsung Muhadjir berpesan Kepada jajaran Pengurus MD KAHMI Kota Malang yang baru saja dilantik, bahwa KAHMI merup

Menampik Stigma Negatif, HMI Korkom UM Gandeng LPP HMI se-Cabang Malang Pada Kegiatan Open Recruitment

Dokumentasi: lapmimalang/Tahta Reza Gramang Atapukan Malang, LAPMI  – Senin (22/08/2022) Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang Koordinator Komisariat Universitas Negeri Malang (Korkom UM) serta seluruh komisariat yang ada di Universitas Negeri Malang mengadakan kegiatan open recruitment dan juga pengenalan tentang Himpunan Mahasiswa Islam kepada mahasiswa baru. Kegiatan ini merupakan yang perdana setelah 2 tahun lamanya tidak berjalan dikarenakan kondisi pandemi yang merebak.  Dalam pelaksanaan kegiatan ini, penyelenggara menggandeng Lembaga Pengembangan Profesi (LPP)  HMI se-Cabang Malang yang merupakan wadah bagi kader-kader HMI yang ingin mengembangkan diri serta bakat yang dimiliki. LPP yang diajak untuk ikut memperkenalkan HMI yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) dan Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam (LSMI). Tujuan dari keikutsertaan dari kedua LPP tersebut adalah ingin menampik stigma negatif mahasiswa baru terhadap organisasi ekstra kampus khususnya terh

Sapere Aude

Alfandy Usman, Kader HMI Komisariat Teknik UMM, Kabiro Eksternal BEM Fakultas Teknik UMM periode 2022/2023 Malang, LAPMI - Bjorka seorang hacker asing yang akhir-akhir ini viral karena melakukan penyerangan terhadap pemerintah Indonesia dan disanjung-sanjung oleh masyarakat, lantaran berhasil membocorkan kasus HAM sebesar peristiwa Munir dan di sebarkan di media sosial. Kita berterimakasih jika itu merupakan tindakan alternatif untuk menuntaskan peristiwa yang didiamkan oleh pemerintah. Akan tetapi, kita sebagai mahasiswa sudah sepatutnya bersifat reflektif dan selektif dalam artian bertindak dan berpikir diluar pola pikir yang dibangun secara umum. Maka dari itu mari bersikap netral untuk tidak memihak salah satu dari kedua belah pihak sebelum menyelidiki untuk memastikan kebenaran yang tervalidasi. Untuk itu mari melihat sudut pandang yang berbeda dari polemik yang ada, sebelum membangun persepsi yang sudah ter-freming, sebab dengan kecurigaan kebenaran selalu ada. Karena yang palsu