Langsung ke konten utama

Mereka yang Bertahan Hidup di Tengah Arus Zaman (Part III)

Ilustasi: Lampungpost

Malang, LAPMI - Di tengah-tengah carut marut malam dengan lampu kota, kami menunggu malam dengan kecemasan berapa pelanggan yang harus ribut di atas ranjang kami di tengah -tengah kota ini, saya dan sekempulan teman menumbuk nasib agar besok siang menjadi nasi sederhana bukan, kami di bawah ke tengah-tengah kota ini berbeda-beda nasibnya himpitan ekonomi mendominasi aktifitas kami di malam hari, saya menanggung kehidupan dengan warna merah malam yang tergopoh-gopoh, bahwa kami tak harus mati dengan kalimat mu, nama saya MALAM rambut saya beramput ikal, memiliki mata oval berkaki kecil, tinggi ku sembilan puluh delapan centimeter pada umur dua puluh tahun, tak lupa saya memiliki lesung pipi di sebelah kanan wajah saya, keseharian saya sehabis pulang sekolah seperti perempuan pada umumnya, istirahat dan sore nya kami mengaji, saya ingin bercerita pada kalian di balik molek tubuh saya, saya mengadu nasib ke kota yang gedungnya bertingkat-tingkat ini, menunggu nasib agar tak lelap di makan-makan waktu jika mereka pagi dengan pakaian rapi dan sarapan sebelum kerja, kami malam tanpa sehelai pakaian maka itu kami sedang bekerja, nama saya malam saya sering meresahkan perempuan lain terutama perempuan yang sudah memiliki anak sebab tuhan menaruh rezeki saya di kantong suami dan ayah mereka, saya merasakan hasil dari kebijakan negara, orang tua saya partisipan partai politik yang di larang oleh negara, jika latar belakang keluarga mu seperti itu, maka kau dan saya senasib sebab kita harus di batasi untuk menikmati sarana dan prasarana pemerintah, waktu itu malam pukul 20:00, setelah ayah selesai sholat, dua lelaki di balik pintu rumah yang satunya menggetuk pintu sambil teriak nama ayah, waktu itu ibu di dapur sedang menyiapkan makan malam setelah selesai sholat kami sekeluarga, seperti malam sebelumnya aktivitas menggerjakan pekerjaan rumah dari sekolah oleh saya dan adik-adik, sementara ayah biasanya setelah mengaji membuka koran dan diskusi kecil dengan ibu, ayah yang seharunya sehabis sholat membantu ibu atau langsung mengerjakan aktivitas lain malam itu tidak, sontak ayah membuka pintu setelah mendengar pintu di ketuk, pintu kemudian terbuka terdengar bunyi pukulan di wajahnya sambil kata-kata.

"Bodooooh"

Menyambar. Setelah pukulan itu mendarat di wajah ayah, sontak ibu ke depan rumah dan ayah sudah bersimbah darah di baju putihnya, ayah kemudian berkata kepada ibu

"Saya tidak apa-apa"

Selanjutnya Ayah di paksa untuk ikut mobil mereka sambil meninggalkan pesan kepada kami yang berada di depan pintu,

“Ayah akan kembali seperti biasa", sambil ayah memaksa untuk tidak di pegang erat agar berjalan leluasa sendiri menuju ke mobil.

Tiga jam kemudian orang-orang itu kembali menggetuk pintu sementara aku, adik-adik dan ibu sedang makan malam dengan mata berair tanpa ayah karena menggenang pukulan di wajah ayah tadi, terdengar ketukan pintu lagi sontak ibu berdiri sambil merapikan pakiannya lalu membuka pintu

“Ada apa bapak?”, ucap ibu
“Harap ikut kami ada yang harus di klarifikasi", ucap lelaki yang wajahnya tak nampak saya lihat

Di balik pintu yang terbuka, ibu kemudian membuang pesan kepada saya, sambil berjalan mendekat ke saya dan adik-adik yang sedang berdiri di depan pintu

“Malam, besok ingat panaskan makanan ya nak, ingat makan baru ke sekolah nak", sambil mencium dahi ku dan berucap ingat rapikan pakaian adik-adikmu ya nak sebelum mereka ke sekolah.

“Ibu, seperti biasanya baru balik ke rumah, karena ibu sedang ada pekerjaan mendadak”

Kemudian ibu naik ke mobil yang mesinnya tidak di matikan dan hilang di telan gelapnya desa, saya yang telah tebiasa dengan aktivitas ayah dan ibu menganggap seperti hal biasa-biasa saja. Setelah seminggu kemudian perasaan saya di guruti kecemasan

“Pertayaanku pada langit-langit kamar, apakah ibu dan ayah sudah makan?, kenapa ibu dan ayah belum juga pulang ke rumah?”

Semenjak malam kepergian ayah dan ibu itu aktivitas belajar mengaji tidak pernah di laksanakan, hari demi hari berlalu dan saya beranikan diri untuk bertanya ke kerabat ayah dan ibu, apakah mereka melihat orang tua saya, namun mereka menjawab dengan tatapan sinis dan langsung pergi meninggalkan pertayaan saya begitu saja, tepatnya sebulan berlalu semua makanan dan beras telah habis lantas apa yang harus di perbuat untuk adik-adik saya agar tidak keroncongan perutnya, saya kemudian memeriksa kebun di belakang rumah namun singkong dan ubi jalar yang di tanam pun sudah juga habis, aktivitas adik-adik pun terasa ada yang beda selama ibu dan ayah tidak kembali, mereka ingin bermain dengan teman sebaya pun di suruh agar tidak untuk bermain dengan mereka, ucap seorang teman adik saya, kemudian saya dan adik-adik hanya melakukan aktivitas di dalam rumah selama dua minggu kepergian ayah dan ibu, malam orang tua saya pergi besoknya kita pergi ke sekolah dan guru meperingatkan agar saya di rumah saja dulu waktu itu sementara saya di kelas Sembilan sebentar lagi harus ujian akhir, saya kemudian meneruti apa yang di suruh guru, setibannya saya di rumah adik-adik saya rupanya sudah di rumah lebih dulu tanpa bertanya lagi adik saya yang berada di kelas enam sekolah dasar menerangkan.

“Kak, kami di suruh pulang oleh bapak guru”
“Oh iya nanti besok baru ke sekolah lagi ya”

Besoknya saya dan adik-adik ke sekolah, namun sama dengan hari-hari sebelumnya kami di suru pulang, lantas betapa jengkel nya saya dengan situasi ini, sebulan lamanya kami tidak ke sekolah, adik-adik terpaksa saya ajarkan dengan apa yang saya bisa, dua minggu ayah pergi tepatnya jam 21:00 ada dua lelaki yang datang ke rumah dan langsung masuk ke rumah, mengangkat semua buku yang ada di rak kemudian pergi tanpa berucap apa-apa, malamnya saya menangis setengah mati, sebulan lagi ramadhan dan tak kunjung datang ayah dan ibu, kenapa ya tuhan.

Tidak ada aktivitas dengan warga kampung, wajah ayah yang berdarah dan pesan ibu apakah menjadi pesan terakhirnya? pertayaan itu yang ada di benak saya sepanjang malam, pula menjadi ciuman dan pelukan terakhirnya dan sampai hari ini saya dan adik-adik tak tahu di mana ibu, seperti apa luka di wajah ayah, pada satu malam saya kemudian berucap lagi sambil saya pandang tempat ayah dan ibu biasanya duduk dan berdiskusi, Adik-adik ini mau di apakan tuhan tepat sebulan lebih kepergian orang tua ku, kami hidup dengan bantuan warga desa yang masih perduli dengan kami tetapi ketika saya bertanya keberadan orang tua saya mereka hanya diam dan pergi meninggalkan pertayaan kami di tengah-tengah malam yang tergopoh-gopoh, saya memikirkan apakah harus hidup terus dengan hibah rezeki dari beberapa warga ini dan kerabat pun sudah tidak mau untuk datang menjenguk kami, saya ingin menegaskan kembali karena ayah saya pratisipan Partai komunis Indonesia, akhirnya tidak boleh bersekolah kata guru saya dan begitu juga kata guru adik-adik tepat sebulan lebih saya dan adik-adik mendengar jawaban dari mulut guru, apakah sehina itu ayah dan ibu kami? namun saya belum juga mengtahui apa kesalahn ibu dan ayah

Namun di benak saya, apakah manusia setega itu mereka-mereka memutuskan masa depan saya dan adik-adik, mejelang tiga bulan saya memutuskan untuk merantau delapan jam perjalanan dari rumah, kemudian sesampainya saya kota itu, saya melamar kerja di mana-mana harus di lengkapi dengan kartu tanda penduduk, sementara saya tidak punya sudah pernah saya urus tapi tidak pernah saya dapatkan, hari demi hari saya beluntang-lantung dari emperan pasar ke emperan toko, lantas saya menemukan sebuah tempat prostitusi terbesar di negeri ini lah yang menjadi tempat saya nantinya mengais rezeki yang tidak memandang latar belakang keluarga seperti apa keluarga mu, bahkan seperti apa masa lalu mu asal kan kau setuju menunjukan paha mu dan di selesaikan di atas ranjang maka siang mu di berikan garansi untuk tidak lapar sampai tiga hari ke depan, kami kemudian melukiskan malam yang jatuh dengan bibir merah lalu keluar dari gang-gang sempit kumuh dan kamar ukuran 2×3 menjadi tempat kamu memetik kenyang lalu menumpuk dan memenggal nasib kalau lah tak ada pekerjaan ini maka matilah saya dan adik-adik, adik saya akhirnya ada yang menjadi pengamen jalanan dan saya suruh untuk mengakhiri menjadi pengamen dan terus lah belajar sambil ku rangkum dan saya peluk biarkan kaka yang menjadi ayah juga menjadi ibu , sontak orang-orang kampung mulai mendengar aktifitas saya dan mulai berucap saya perempuan sundal, jika malam kembali pengga lah kepalannya buat sial saja untuk kampung, lantas saya bertanya apakah kalian pernah mendengar nasib kami lewat mulut kami? Apakah kalian pernah memandang isi perasaan kami lewat kehidupan kami? pertayaan itu tak pernah saya ucapkan hanya saya simpan sebagai motifasi

Apakah kalian pernah juga datang dan saksikan betapa hancurnya saya seorang perempuan yang mengadu nasib di kota ini selama dua tahun dan hidup lebih dari sehari tanpa makan? Apakah kalian sadar bahwa jika bulan sudah ada kami menangis dengan sembunyi-sembunyi di kamar di teras rumah dan jendela sambil menatap bulan? apakah kalian pernah datang dan menghapus air mata saya dan Adik-adik? Tidak pernah bukan? Lantas berapa lama lagi kami harus terus menatap lebaran dengan cemburu atas kue lebaran kalian, baju baru anak-anak kalian dan opor ayam setelah sholat Ied kalian? Ah, sudalah biarkan saya menjadi sundal di mata kalian semoga Tuhan selalu melihat nasib saya dengan kehendak nya, Mereka sedang berbincang tentang moral mereka, namun mereka lupa dengan tugas mereka yang berhak atas merawat nasib kami, wow kata itu saya keluarkan dengan status pendidikan ku hanya SMP, namun hidup Luntang-Lantung yang membuat saya sendiri menjadi dewasa yang sudah tentu tak butuh ijasah, air mata menatap kami agar tidak menjadi air mata, malam melihat kami agar tidak menjadi malam, siang melihat kami agar tidak juga menjadi siang itu saja yang kami mau yaitu kematian dari hasil jual payudarah ku dan vagina ku juga molek tubuh saya, Adik-adik semuanya lulus kuliah mereka pasti sudah tahu kerja saya seperti apa saya yakin akan hal tersebut, saya pulang ke kampung sesampainya saya harus malam dan subuh harus sudah balik, saya membuka pintu rumah dan di hadapan saya adik saya gambarkan kehidupan keluarga di meja makan, sepertinya sebelum menggambar dia temui tetangga kampung yang sedang makan malam dengan keluarganya yang lengkap dan sempurna, tak tahu mengapa di balik wajah capek mainya di sore dan siang tadi air mata saya jatuh melihat adik-adik terlelap tidur, saya menaruh bingkisan dan alat tulis mereka, jika saya di hadapkan dan bertemu dengan ibu dan ayah lagi untuk ayah maafkan saya tidak bisa menjadi putri tertua yang baik setelah kepergian kalian dan untuk mu ibu maaf jika saya harus menjual tubuh ku kepada siapa pun lelaki yang mau membayar, pasti tercabik air mata mereka di depan saya namun maaf ibu dan ayah begini lah nasib kami, beginilah jalan yang mengharuskan saya tempuh beginilah saya hancur kan harapan kalian, jika hanya saya di hadapkan pada ibu saja maka permintaan maaf atas Adik-adik yang saya biarkan lapar terus menerus tak saya urus makan pagi mereka dan baju mereka agar rapi kadang-kadang juga compang camping, pasti ibu marah besar jika melihat hal tersebut, jika di hadapkan pada ayah sendiri maka maafkan saya ayah pula tidak mampu melukiskan takdir di keluarga ini seperti yang kamu lukiskan dalam cita-cita mu waktu say kecil dulu, kepada seorang putri sulung yang bisa kau ucap harus menjadi dokter demi bisa merawat dan melihat anak-anak mu setelah saya minta maaf, ayah maaf saya harus jadi pelacur ucapan itu setelah tiga malam pertama saya bekerja, jika orang-orang desa memandang pelacur tidak hina maka berapa pelanggan semalam milik saya mereka akan bangga, sebab setiap malam lebih dari lima orang saya layani dan rata-rata mereka duduk di berbagai jabatan, saya pelacur sukses di negeri ini bahwa kalian tahu, setelah lima tahun pekerjaan saya tekuni saya memiliki dua puluh orang yang saya pimpin mereka, orang berkata di tangan saya mereka lebih baik dan mahal, melepaskan kepala mereka yang dulu nya tertunduk mereka angkat, sebab mereka saya taruh rasa percaya bahwa ini tidak harus lama, karena banyak yang terjebak atas ekonomi yang menyumpal mulut, kaki, tangan dan perasaan mereka-mereka yang datang dan saya pimpin mereka, selalu saya tanyakan berapa saudaramu?, Orang tua mu di mana?, Setelah mereka menjawab jika kau tidak perhatikan sekolah dua dari keluarga mu, maka kau yang akan saya bunuh di sini? Setelah mereka lulus kuliah dan memiliki tempat kerja yang layak, kau harus keluar dan langkah pertama mu keluar dari tempat ini, maka kau harus Pastikan sudah terkubur ingatan, soal Desahan pelanggan kau, makan malam yang ramai, dan desahan kesakitan kau di atas ranjang dari tempat ini, setiap perempuan yang datang saya kenal adiknya, kenal juga orang tuanya jika masih ada, rata-rata mereka anak tertua di dalam keluarga, lalu saya ingin ceritakan bahwa saya dapati satu peristiwa yang cukup berat seorang perempuan yang kampungnya 24 jam perjalanan dari tempat kita bekerja namanya laut, masa kerjanya hanya tiga tahun, saya dapati dia tidak tepat janji dia melebihi masa kerjanya, ia hampir mati di tangan saya, waktu itu saya dengar kabar bahwa dia masih kerja di tempat yang berbeda dan kemudian saya pergi Mencarinya ternyata benar, laut masih bekerja di tepat yang saya dengar dari orang-orang, sontak dari tangan saya, saya tinggal kan dua pulau delapan jahitan di wajahnya, saya pukul dengan gelas minum keras

“Apakah, sudah cukup untuk membuat kamu tidak secantik beberapa menit yang lalu?”, ucapan saya setelah gelas itu pecah di wajah laut.

“Ini perempuan sudah saya peringat kan agar tak melayani lelaki lagi urus lah kehidupan baru, sebab adik mu sudah bekerja di tempat yang bagus”, ucap saya kepada orang-orang yang berkerumun.

Persitiwa saya dan laut pada malam berdarah itu biasanya menjadi contoh untuk perempuan yang datang, hari kedua mereka datang bekerja saya peringatkan lagi adik-adik kalian yang kalian sekolah kan jika sukses maka beli lah ladang, buka lah toko dan apa pun itu untuk kalian menjauh dan melupakan pekerjaan ini, mimpi lah agar keluar dari stigma bahwa kita ini perempuan sundal oleh orang di luar sana.

Mau sampai kapan kau di katakan sundal, beberapa perempuan yang datang perempuan saya buatkan mereka tabungan, semalam biasanya rata mendapatkan di atas dari Rp. 300.000 jika mereka membayar ongkos sewa di akhir bulan Rp. 100.000 untuk ongkos sewa tempat tinggal Rp. 50.000 untuk tabungan mereka yang saya simpan berdasarkan nama, sisanya untuk melengkapi kebutuhan sehari-hari mereka, jika laut waktu keluar dari tempat saya dengan Rp. 56.000, jika adik mereka tidak memperhatikan mereka uang itulah yang menjadi penyambung hidup mereka, ketika keluar dari sini, jika uang mereka untuk kebutuhan sehari-hari tidak mecukupi maka saya yang mencukupi jika saya tidak bisa mengcukupi, maka semua yang saya pimpin wajib mengeluarkan uang harian untuk membantu siapa yang susah keuangan, sangatlah mustahil saya berikan uang tabungan itu kepada mereka, ada yang pernah mengamuk dan mempertanyakan uang yang saya potong, perempuan itu namanya cahaya kemudian saya ajak dia ke kamar saya,

“Ini uang siapa kalau bukan punya kau?”, sambil malam mengeluarkan uang dari tempat yang malam simpan

“Ini uang siapa kalau bukan punya selat dan anna?”, sambil menjejerkan uang para pelacur yang malam pimpin

“Ini sudah Minggu ke berapa yang saya kumpulkan uang kau”, sambil menunjukan kalender uang masuk setiap pelacur yang malam pimpin

“Bukankah sejak setahun lalu kau di sini tepat kemarin kau datang dan ini uangmu bukan?", sambil menunjuk ke kelender milik cahaya

“Ini nama kau bukan?"
“Ini sekarang usia adik-adik kau bukan?”
“Ini nama orang tua kau dan sudah meninggal bukan?”

“Ini nama sekolah adik kau bukan?", sambil menaruh semua catatan di atas tempat tidur. Kemudian malam mendekat dan memeluk erat cahaya

“Benar saya pelacur, pelacur yang sudah berjuta kali lelaki datang cicipi payudara saya, mejilat vagina saya, memang betul lelaki yang datang telah ku hisab habis penis mereka, namun ingat saya tetaplah saya, saya adalah perempuan yang ingin bebas seperti perempuan lainya seperti perempuan di luar sana menikmati kehidupan tanpa stigma sundal”, sambil malam mengelus kepala cahaya dan menangis

“Saya, hanya terpaksa dengan keadaan ini mau sampai kapan kau,saya dan yang lain, juga harus terpaksa seperti ini?”, sambil melepas pelukan dan menatap wajah selat

“Sebab jika kita tua nanti kita sudah tidak lagi semolek hari ini uban sudah ada di kepala kita, maka kau dan saya harus mencari kehidupan yang lain, kehidupan yang jauh lebih baik dari hari ini lantas mengapa tidak kita memiliki keinginan lebih dini untuk berhenti dari aktivitas ini sebelum uban dan keriput wajah kita datang?", sambil mengusap air mata cahaya

“Apakah kau tidak merindukan maaf tuhan? Ingat kita melakukan ini dengan terpaksa jika ada kesempatan untuk tidak terpaksa kenapa tidak kita lakukan? saya ingin kalian yang keluar dari sini keluar dengan cara baru menyapa kehidupan baru kalian, siapa saja yang kerja di sini di desa sana kalian di panggil sundal sebelum nama kalian, ingat itu kalian di panggil sundal, perempuan sundal, ingatlah saya sedang menggerjakan pekerjaan di sisi satu sungguh-sungguh di sisi lainnya terpaksa, jangan pernah anggap saya untuk tidak menjaga amanah, sekali pun itu adalah darah akan saya jaga aman itu”

“Pergilah, lalu bersikan badan mu layani para tamu yang datang”, sambil membereskan semua uang ke tempat peyimpanan

Ingat, sebentar lagi bulan hadir jangan lupa baca koran mu, sambil mata berkaca mereka saling meninggalkan ruang sempit kamar milik malam, perempuan yang saya pimpin juga setiap orang wajib membayar koran bulanan termasuk saya dan di ruang rias mereka di kumpulkan dan saya ajak satu persatu untuk menerangkan apa yang mereka baca dari koran Hari ini yang datang, jika tidak menerangkan jangan harap mereka akan dapat pelanggan, Majalah dua hari sekali datang dengan dua puluh ekspelar dan saya memiliki empat puluh pekerja, sepuluh tahun saya di sini mereka saya suru membaca Hanya itu saja yang mengasa otak kami semua, seperti yang di lakukan ayah pada kami sehabis makan malam, maka di gudang kami jangan kaget ketika pelanggan kami sering heran dengan tumpukan koran yang ada biasanya juga Koran itu berserkan sambil di atasnya buku dan bulpoin di atasnya, jika ada yang telah memiliki anak maka di usia yang cukup mereka harus pergi ke sekolah, namun saya berharap bahwa kawin lah dan carilah laki-laki yang mau merawat masa depan dengan mereka, bukan merawat masa lalu sehina kau di mata lelaki di luar sana percayalah bahwa ada lelaki yang memandang kau dengan suci di luar sana, pula bukan kah begitu tuhan kau menciptakan nasib kepada hambah-hamba mu ini pesan saya ketika mereka meyetor uang mereka, adik-adik saya titipkan kepada seorang bapak yang menjadi pemulung dalam keluarganya mereka kemudian mencantumkan adik-adik di kartu keluarga bapak tersebut, kemudian adik-adik mereka merubah nama, adik-adik mereka tidak memanggil saya kakak lagi tetapi ibu, saya yang menyuruh agar mereka bisa meyembuyikan status ibu dan ayah, rumah kami jual dari hasil jual tubuh saya, saya tabambahkan dan saya berikan rumah dan saya buka toko kecil untuk bapak dan ibu tadi bisa berjualan sambil memulung, adik-adik saya sambil sekolah dan menjaga tokoh, saya terangkan agar memanggil mereka adalah ayah dan ibu juga terus saya temui dalam seminggu dua kali, mereka saya buatkan juga tabungan agar kelak jika saya meninggal kan mereka duluan maka mereka tak ke dua kalinya luntang-lantung seperti ibu dan ayah pergi jauh meninggalkan kami

SELESAI

Penulis: Rahmat Watimena
Editor: Reny Tiarantika

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadiri Pelantikan Pengurus MD KAHMI Kota Malang, Menko PMK RI: KAHMI Malang Harus Bisa Memberi Arti Peranannya di Malang Raya

Dokumentasi : Rafindi  Malang, LAPMI  - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhadjir Effendy menghadiri pelantikan Majelis Daerah (MD) KAHMI Kota Malang Periode 2021-2026, terhitung sebanyak 67 orang yang telah dilantik oleh Majelis Wilayah (MW) Korps Alumni HMI (KAHMI) Jawa Timur. Pelantikan tersebut berlangsung di Regents Park Hotel, pada Minggu (30/01/2022). Selain Menko PMK RI, pelantikan tersebut juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Presidium MN KAHMI Manimbang Kahariady, Presidium MW KAHMI Jawa Timur Edy Purwanto, Wali Kota Malang Sutiaji, Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian Diana Kartika beserta para tokoh dan tamu undangan lainnya. Dalam momentum pelantikan yang bertemakan "Berperan Aktif dalam Kemaslahatan Publik di Era Disrupsi" tersebut, Muhadjir Effendy berkesempatan untuk memberikan pidato kebudayaan. Saat pidato berlangsung Muhadjir berpesan Kepada jajaran Pengurus MD KAHMI Kota Malang yang baru saja dilantik, bahwa KAHMI merup

Menampik Stigma Negatif, HMI Korkom UM Gandeng LPP HMI se-Cabang Malang Pada Kegiatan Open Recruitment

Dokumentasi: lapmimalang/Tahta Reza Gramang Atapukan Malang, LAPMI  – Senin (22/08/2022) Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang Koordinator Komisariat Universitas Negeri Malang (Korkom UM) serta seluruh komisariat yang ada di Universitas Negeri Malang mengadakan kegiatan open recruitment dan juga pengenalan tentang Himpunan Mahasiswa Islam kepada mahasiswa baru. Kegiatan ini merupakan yang perdana setelah 2 tahun lamanya tidak berjalan dikarenakan kondisi pandemi yang merebak.  Dalam pelaksanaan kegiatan ini, penyelenggara menggandeng Lembaga Pengembangan Profesi (LPP)  HMI se-Cabang Malang yang merupakan wadah bagi kader-kader HMI yang ingin mengembangkan diri serta bakat yang dimiliki. LPP yang diajak untuk ikut memperkenalkan HMI yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) dan Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam (LSMI). Tujuan dari keikutsertaan dari kedua LPP tersebut adalah ingin menampik stigma negatif mahasiswa baru terhadap organisasi ekstra kampus khususnya terh

Sapere Aude

Alfandy Usman, Kader HMI Komisariat Teknik UMM, Kabiro Eksternal BEM Fakultas Teknik UMM periode 2022/2023 Malang, LAPMI - Bjorka seorang hacker asing yang akhir-akhir ini viral karena melakukan penyerangan terhadap pemerintah Indonesia dan disanjung-sanjung oleh masyarakat, lantaran berhasil membocorkan kasus HAM sebesar peristiwa Munir dan di sebarkan di media sosial. Kita berterimakasih jika itu merupakan tindakan alternatif untuk menuntaskan peristiwa yang didiamkan oleh pemerintah. Akan tetapi, kita sebagai mahasiswa sudah sepatutnya bersifat reflektif dan selektif dalam artian bertindak dan berpikir diluar pola pikir yang dibangun secara umum. Maka dari itu mari bersikap netral untuk tidak memihak salah satu dari kedua belah pihak sebelum menyelidiki untuk memastikan kebenaran yang tervalidasi. Untuk itu mari melihat sudut pandang yang berbeda dari polemik yang ada, sebelum membangun persepsi yang sudah ter-freming, sebab dengan kecurigaan kebenaran selalu ada. Karena yang palsu